Mereposisi Diri pada Situasi Berbeda
7 Maret 2010 pada 08:54 | Ditulis dalam Great Person, GWC, Inspirasi, Wirausaha | Tinggalkan KomentarKaitkata: entrepreneur, Great Person, GWC, Hermawan Kartajaya, marketing
WALAUPUN hanya mendapatkan job untuk memberikan pelatihan kepada mantan anak buah di divisi distribusi Sampoerna, itu sudah cukup bagus. Saat menangani job itu, selama setahun saya harus keliling Indonesia, mengunjungi seluruh region yang dulu saya buat strukturnya.
Saya tahu persis apa yang mereka sudah tahu dan jago. Dan, apa lagi yang sebenarnya mereka butuhkan. Mereka adalah para “jago lapangan”, mulai tingkat salesman, supervisor, hingga manajer.
Mereka tahu persis bagaimana menjalankan pengecekan stok langganan sambil menawarkan barang untuk diorder. Mereka juga sudah terbiasa memasang merchandise seperti poster, stiker, dan alat-alat promosi lain di retailer. Mereka juga jeli melihat perkembangan promosi para pesaing. Selain itu, mereka cekatan untuk bertanya dan mencatat omzet berbagai merek besar untuk perkiraan market share. Itu yang dikerjakan para salesman.
Mintalah, maka Kamu Akan Diberi!
6 Maret 2010 pada 08:50 | Ditulis dalam Great Person, GWC, Wirausaha | Tinggalkan KomentarKaitkata: entrepreneur, Great Person, GWC, Hermawan Kartajaya, marketing
PERJALANAN awal MarkPlus Professional Service tidak semulus yang saya kira. Padahal, personal brand awareness saya sudah cukup tinggi berkat menulis di Jawa Pos tiap Rabu (sejak masih di PT Panggung Electronic Industries dan dilanjutkan ketika di Sampoerna). Personal brand association saya juga sudah sangat “tajam”, karena selalu dan hanya menulis dari “angle” marketing. Kalau dihitung secara kasar saja, tiga tahun berturut-turut waktu itu berarti sudah 150 tulisan marketing saya keluar di Jawa Pos.
Kehadiran saya di Rotary Club Surabaya Rungkut pun membantu terjadinya network. Di sanalah saya mulai menawarkan diri untuk bicara secara “gratis” di perusahaan-perusahaan teman saya. Itu pun susah!
Mereka suka membaca tulisan saya karena mudah dicerna, tapi tak mau spend waktu untuk anak buah. Mereka takut kalau saya hanya omong kosong. Untungnya, waktu itu, saya punya kegiatan lain. Yaitu, mengajar secara part-time di Fakultas Ekonomi Ubaya bersama mantan pembimbing skripsi saya di situ, Pak Henky Supit, yang sekarang profesor. Selain itu, saya mengaktifkan diri di Indonesia Marketing Club atau IMC Cabang Surabaya. Pokoknya, supaya kelihatan sibuk, saya harus pergi keluar rumah setiap hari!
Brand Must Reflect “Reason for Being”
5 Maret 2010 pada 08:45 | Ditulis dalam Great Person, GWC, Inspirasi, Wirausaha | Tinggalkan KomentarKaitkata: catatan, entrepreneur, Great Person, GWC, Hermawan Kartajaya, marketing
MarkPlus adalah Marketing Plus! Hal itu terlihat di logo pertama yang saya buat. Ada sembilan kotak bujur sangkar kecil yang saya susun tiga kali tiga.
Pada tiga kotak pada baris paling atas, saya pasang huruf M-A-R. Pada tiga kotak pada baris kedua, saya taruh K-E-T. Susunan huruf pada baris terakhir adalah I-N-G. Jadi, kalau dibaca: MAR-KET-ING.
Untuk menggambarkan Plus, saya mainkan warna hitam dan putih. Di baris atas, huruf M warna hitam dengan latar belakang putih. A warna putih di atas kotak hitam dan R warna hitam di atas putih. K-E-T ketiganya putih di atas kotak-kotak hitam. Akhirnya, balik lagi seperti baris pertama, I hitam di atas putih, N putih di atas hitam, dan G hitam di atas putih.
Dengan demikian, latar belakang MAR-KET-ING akan terbaca sebagai black cross.
Menjadi Ikan Besar di Kolam Kecil!
4 Maret 2010 pada 08:39 | Ditulis dalam Great Person, GWC, Inspirasi, Wirausaha | Tinggalkan KomentarKaitkata: catatan, entrepreneur, Great Person, GWC, Hermawan Kartajaya, marketing
TERUS terang, hari-hari pertama setelah saya mendirikan MarkPlus Professional Service di Surabaya pada 1 Mei 1990, saya gelisah. Biasanya naik Toyota Crown Salon, lantas naik Toyota Corolla. Cicilian lagi! Baru kasih uang muka Rp 20 juta dan ngutang 24 bulan. Itu pun belum pasti bisa bayar lunas.
Kartu nama yang semula direktur PT HM Sampoerna menjadi MarkPlus Professional Service tanpa jabatan. Malu soalnya. Masa ditulis direktur atau managing director, gak punya karyawan sama sekali. Perusahaan satu orang atau one man show…. Alamatnya dari pabrik Sampoerna di SIER ganti ke alamat rumah Taman Prapen Indah C 8.
Dahlan Iskan, Putera Sampoerna, dan Ciputra: Beda tapi Sama
3 Maret 2010 pada 08:36 | Ditulis dalam Great Person, Inspirasi, Wirausaha | Tinggalkan KomentarKaitkata: catatan, entrepreneur, Great Person, Hermawan Kartajaya, marketing
SAYA sudah menulis tentang tiga “guru” saya itu sebelum mulai MarkPlus Professional Service pada 1 Mei 1990 di Surabaya. Ketiganya sangat berbeda, tapi ketiganya sangat sama. Lihat saja.
Dahlan Iskan, bekas wartawan, asal Magetan, lulus IAIN jurusan hukum. Setelah jadi kepala Biro Tempo di Surabaya, dia ditunjuk untuk memimpin Jawa Pos yang waktu itu “hidup susah, mati segan”. Setelah membesarkan Jawa Pos Group ke seluruh Indonesia, dia mencoba masuk ke berbagai bisnis lain.
Tidak semua bisa sukses sebesar Jawa Pos Group yang di media. Tapi, Pak Dahlan memang ingin menunjukkan kepada orang bahwa dia tidak hanya bisa di bisnis media. Dia selalu menyukai tantangan. Pada waktu ini, banyak orang yang berharap dia berhasil di PLN. Kayak sebuah mission impossible. Itulah Dahlan Iskan.
Lanjutkan Membaca Dahlan Iskan, Putera Sampoerna, dan Ciputra: Beda tapi Sama…
Karyawan Bermental Pengusaha, Pengusaha Berjiwa Karyawan
2 Maret 2010 pada 08:32 | Ditulis dalam Great Person, Inspirasi, Wirausaha | Tinggalkan KomentarKaitkata: catatan, entrepreneur, Great Person, Hermawan Kartajaya, marketing
SATU hal yang saya lihat konsisten pada diri Pak Ciputra sejak dulu sampai sekarang ialah entrepreneurship. Beliau percaya bahwa inilah yang akan membawa Indonesia maju. Tanpa entrepreneurship, sebuah negara tidak akan maju.
Menurut Pak Ciputra, paling tidak lima persen penduduk sebuah negara haruslah berjiwa pengusaha. Jadi pengusaha sungguhan atau tetap bekerja pada orang lain, tapi punya jiwa pengusaha. Buat saya, kalau Anda karyawan tapi menganggap perusahaan tempat Anda bekerja sebagai perusahaan sendiri, dampaknya akan lain. Bukan cuma pada perusahaannya, tapi terutama pada diri sendiri. Itu yang kurang disadari orang.
Banyak yang berpikir bahwa dia merasa “rugi” kalau menganggap perusahaan tempat dia bekerja kayak perusahaan sendiri. “Kok enak..rugi dong aku…nanti aja kalau aku sudah punya perusahaan sendiri, baru begitu…” Itu alasan orang yang gak mau jadi intrapreneur.
Lanjutkan Membaca Karyawan Bermental Pengusaha, Pengusaha Berjiwa Karyawan…
Above the Politics, Pro-active and Self-initiative Target
24 Februari 2010 pada 04:38 | Ditulis dalam Great Person, Inspirasi, Wirausaha | Tinggalkan KomentarKaitkata: catatan, entrepreneur, Great Person, Hermawan Kartajaya, marketing
MAKNA entrepreneurship memang tidak harus selalu diterjemahkan jadi “pengusaha”. Bahkan ada suatu riset yang menemukan bahwa orang yang mulai usaha tanpa persiapan yang matang akan gagal. Sudah banyak contohnya. Seorang eksekutif yang hebat dari perusahaan besar.swasta atau multinational bahkan BUMN gagal setelah kerja sendiri. Ketika kerja di suatu perusahaan sebagai professional, seorang eksekutif hanya ngurusin bidangnya. Yang penting, KPI atau Key Performance Index harus diperhatikan. Sebab disitulah dia dinilai, di evaluasi, dipromosi, dan sebagainya.
Biasanya gak peduli pada fungsi lain. Balikan seringkali.saling menjatuhkan untuk “naik” ketangga lebih tinggi yang lebih “menyempit” jalannya.Yang penting bisa mcmanajemeni atas, bawah, dan samping ! Saya sengaja menyebut kata “atas” pertama kali.karena banyak yang eksekutif yang pintar “manage his or her boss” tapi lupa “bawah”. Bila perlu diinjak sekalian !
Memanajemcni “tengah” atau “Managing peers” juga sering harus dilakukan untuk mendapat support dari teman-teman selevel. Baru setelah itu, memanajemeni anak buah. Padahal, mestinya yang ke bawah ini yang harus dilakukan dengan baik dulu. Baru ke tengah dan ke atas. Tapi, gerakan “menjilat ke atas” dan “menginjak ke bawah” lali yang sering kejadian.
Lanjutkan Membaca Above the Politics, Pro-active and Self-initiative Target…
Janji Adalah Utang! Karena Itu, Janji Harus Dibayar!
24 Februari 2010 pada 04:35 | Ditulis dalam Great Person, Inspirasi, Wirausaha | 3 KomentarKaitkata: catatan, entrepreneur, Great Person, Hermawan Kartajaya, marketing
SELAMA saya bekerja di Sampoerna, saya tetap memelihara kontak dengan Pak Ciputra. Setiap ke Jakarta, saya berusaha menemui beliau.
Saya juga mengikuti terus apa yang dipelopori oleh ”sang pelopor” di industri properti itu. Salah satu pelajaran yang saya tidak bisa lupa adalah pernyataan beliau kepada pelanggan.
Apa itu? ”Janji adalah utang! Karena itu, janji harus dibayar!” Itu kan pas dengan konsep dasar Customer Satisfaction atau Kepuasan Pelanggan. CS 101!
Ketika orang berpikir bahwa service adalah ”keramahan” atau ”senyum”, maka kenyataannya bukan begitu. Ada banyak orang yang berpikir bahwa service adalah ASS atau after sales service. Apalagi, di industri otomotif ada istilah ”3S” (sales, service, and sparepart)!
Kalau sudah begini, arti service itu menjadi ”kecil”. Sebab, divisi sales bertanggung jawab jualan produk. Service untuk ASS, sedangkan sparepart yang menyiapkan suku cadang. Padahal, pengertian service bukan seperti itu.
Menurut riset intensif yang dilakukan Leonard Berry, Valarie Zeithaml, dan Parasuraman, mereka menemukan bahwa elemen terpenting dalam service adalah reliability. Deliver what you have promised! Berikan apa yang Anda sudah janjikan!
Statemen Pak Ciputra ketika itu bahkan lebih keras lagi yang mengatakan bahwa janji adalah utang! Berarti, kalau Anda sudah janji, sudah langsung utang! Padahal, waktu itu, CS masih istilah baru di dunia marketing. Astra yang merupakan the best managed company pun di Indonesia baru mulai belajar konsepnya. Secara umum, orang yang bekerja di industri service sadar duluan tentang CS ini. Simpel saja….
Lanjutkan Membaca Janji Adalah Utang! Karena Itu, Janji Harus Dibayar!…
Memasarkan Diri secara Entrepreneurial
23 Februari 2010 pada 06:46 | Ditulis dalam Great Person, Inspirasi, Wirausaha | 4 KomentarKaitkata: catatan, entrepreneur, Great Person, Hermawan Kartajaya, marketing
MENYAMBUNG cerita kemarin, seminar Teori Z bersama Pak Ciputra di Surabaya akhirnya sukses. Di dalam seminar tersebut, Pak Ci menjelaskan bahwa Teori Z pada dasarnya pas dengan situasi Indonesia yang “kekeluargaan”. Karena itu, Jaya Group, PT Pembangunan Jaya khususnya, menerapkannya dengan maksimal. Tentunya ada modifikasi di sana-sini sesuai dengan keadaan.
Memperhatikan gaya bicara Pak Ci, saya belajar bahwa tugas seorang leader, antara lain, bisa “menjual” ide-idenya. Kalau tidak bisa melakukan itu, dia akan bekerja sendirian. Tidak ada yang mau ngikut. Nah, kalau sudah begitu, ya namanya bukan leader. Seorang leader mutlak harus punya follower.
Untuk membuat orang lain “ngikut”, ya dia mesti bisa meyakinkan follower-nya bahwa cara yang ditempuhnya benar untuk mencapai tujuan. Apalagi, seorang leader punya kesempatan untuk melihat situasi “dari atas”. Karena itu, diharapkan bisa memberikan arahan yang benar.
Pak Ci, dengan gayanya yang khas waktu itu, bahkan mengatakan bahwa Teori Z akan membuat sebuah perusahaan “profesional” bisa bekerja seperti perusahaan “family”. Sebab, diharapkan karyawan lebih punya sense of ownership pada perusahaan. Bukan hanya loyal pada profesi atau fungsinya.
Di situlah saya juga mendengar bagaimana Pak Ci bicara tentang intrapreneurship. Kalau Anda bekerja sebagai seorang profesional tapi punya rasa memiliki yang tinggi, Anda adalah intrapreneur. Selanjutnya, kita sama-sama tahu kan bahwa Pak Ci adalah orang yang terus mendorong semangat entrepreneurship di Indonesia. Beliau selalu mendorong orang lain punya semangat seperti itu.
Sepuluh Langkah Undang Ciputra
23 Februari 2010 pada 04:26 | Ditulis dalam Great Person, Inspirasi, Wirausaha | Tinggalkan KomentarKaitkata: catatan, entrepreneur, Great Person, Hermawan Kartajaya, marketing
KEMARIN saya sudah bercerita bahwa saya tertarik untuk mengontak Pak Ci karena Teori Z. Tapi, waktu itu saya berpikir bahwa sangat susah mengontak orang “besar” seperti dia. Karena itu, saya cari akal.
Pertama, saya cari tahu dulu nomor telepon kantor PT Pembangunan Jaya di Jakarta. Kedua, saya telepon kantor Pak Ci dan mengatakan kepada operator bahwa saya mau bicara pada sekretaris Pak Ci. Dengan mengatakan begitu, saya ingin menghindari “filter” operator. Kalau saya bilang mau bicara pada Pak Ci pun, toh saya akan dihubungkan ke sekretaris Pak Ci. Daripada begitu, ya lebih baik bicara sama sekretarisnya saja sekalian.
Ketiga, begitu tersambung dengan si sekretaris, saya langsung ditanya detail maksud saya untuk bicara dengan Pak Ci.
Waktu itu saya bilang bahwa saya belum mau bicara dengan Pak Ci karena beliau belum kenal saya. Tapi, saya katakan bahwa yang akan saya katakan akan sangat menarik buat Pak Ci. Saya pikir, waktu itu, tidak ada sekretaris yang tidak akan menyampaikan good news kepada bosnya. Benar juga dugaan saya! Si mbak menanyakan apa yang akan saya sampaikan.
Keempat, saya ceritakan bahwa saya mengagumi Pak Ci karena pemikirannya. Terutama tentang Teori Z. Saya bilang bahwa saya ingin mengundang beliau untuk berbicara tentang hal tersebut di Surabaya!
Blog pada WordPress.com. | Tema: Pool oleh Borja Fernandez.
Tulisan dan komentar feeds.
